A. Orbital hibrida dari Nitrogen dan Oksigen
Atom nitrogen dan oksigen dalam
struktur organik juga dapat membentuk hibridisasi sp3. Nitrogen
memiliki lima elektron valensi di lapisan kedua. Setelah hibridisasi, akan
memiliki tiga setengah penuh orbital sp3 dan dapat membentuk tiga ikatan.
Oksigen memiliki enam elektron valensi. Setelah hibridisasi, akan memiliki dua
setengah penuh orbital sp3 dan akan membentuk dua ikatan. Keempat
orbital sp3 untuk ketiga atom membentuk susunan tetrahedral dengan
satu atau lebih orbital yang ditempati oleh pasangan electron tunggal.
Mengingat atom saja, nitrogen membentuk bentuk piramida dimana sudut ikatan
yang sedikit kurang dari 109.5o (c. 107o).Ini kompresi
dari sudut ikatan karena orbital yang mengandung pasangan electron tunggal,
yang menuntut jumlah ruang yang sedikit lebih besar daripada sebuah ikatan.
Oksigen membentuk bentuk miring atau bengkok dimana dua pasang elektron tunggal
memampatkan sudut ikatan dari 109.5o untuk c. 104o .
Alkohol, amina, alkil halida, dan
eter semuanya mengandung ikatan sigma yang melibatkan nitrogen dan oksigen.Ikatan
antara atom-atom karbon dibentuk oleh tumpang tindih setengah penuh orbital
hibridisasi sp3 dari setiap atom. Ikatan yang melibatkan atom
hidrogen (misalnya O-H dan N-H) dibentuk oleh tumpang tindih dari setengan
penuh orbital 1s dari hidrogen dan setengah penuh orbital sp3 dari
oksigen atau nitrogen. Nitrogen
memiliki lima elektron pada kulit terluarnya.Elektron pada ground-state atom
oksigen memiliki konfigurasi:
1s2 2s2 2px2 2py1 2pz1, dan
oksigen merupakan atom divalen. Dengan melihat konfigurasi elektronnya, dapat
diprediksi bahwa oksigen mampu membentuk dua ikatan sigma karena pada kulit
terluarnya terdapat dua elektron tak berpasangan (2py dan 2pz). Air adalah
contoh senyawa yang mengandung oksigen sp3.
B.Ikatan rangkap terkonjugasi
Pengaturan kembali
electron melalui orbital π, terutama dalam system konjugasi atau senyawa
organic yang atom-atomnya secara kovalen berikatan tunggal dan ganda secara
bergantian (C=C-C=C-C) dan mempengaruhi satu sama lainnya membentuk daerah
delokalisasi electron disebut dengan konjugasi. Elektron-elektron pada daerah
delokalisasi ini bukanlah milik salah satu atom, melainkan milik keseluruhan
system konjugasi ini.
Contoh:
Fenol (C6H5OH) memiliki sistem 6
elektron di atas dan di bawah cincin planarnya sekaligus di sekitas gugus
hidroksil. Sistem konjugasi secara umumnya akan menyebabkan delokalisasi
electron disepanjang orbital p yang parallel satu dengan lainnya. Hal ini akan
meningkatkan stabilitas dan menurunkan energi molekul secara keseluruhan.
Konjugasi dapat terjadi dengan keberadaan gugus pendonor orbital p yang
berbeda. Selain ikatan tunggal dan ganda yang bergantian, sisten konjugasi
dapat juga terbentuk oleh keberadaan atom yang memiliki orbital p secara
parallel. Contoh, furan
C.Benzena dan resonansi
Benzena merupakan
suatu anggota dari kelompok besar senyawa aromatik, yakni senyawa yang cukup
distabilkan oleh delokalisasi elektron-pi. Energi resonansi suatu senyawa
aromatik merupakan uluran diperolehnya kestabilan.Cara paling mudah untuk
menentukan apakah suatu senyawa itu aromatik ialah dengan menentukan posisi
absorpsi dalam mspektrum nomor oleh proton yang terikat pada atom-atom cincin.
Proton yang terikat ke arah luar cincin aromatik sangat kuat terperisai dan
menyerap jauh ke bawah-medan dibandingkan kebanyakan proton, biasanya lebih
dari 7 ppm.Benzena dan Turunannya Senyawa benzena pertama kali disintesis oleh
Michael Faraday pada tahun 1825, dari gas yang dipakai sebagai bahan bakar
lampu penerang.Sepuluh tahun kemudian diketahui bahwa benzena memiliki rumus
molekul C6H6 sehingga disimpulkan bahwa
benzena memiliki ikatan rangkap yang lebih banyak daripada alkena.
Ikatan
rangkap pada benzena berbeda dengan ikatan rangkap pada alkena. Ikatan rangkap pada alkena dapat mengalami
reaksi adisi, sedangkan ikatan rangkap pada benzena tidak dapat diadisi, tetapi
benzena dapat bereaksi secara substitusi. Contoh:
Reaksi adisi : C2H4 + Cl2 --> C2H4Cl2
Reaksi substitusi : C6H6 + Cl2 --> C6H5Cl + HCl
Menurut Friedrich August Kekule,
keenam atom karbon pada benzena tersusun secara siklik membentuk segienam
beraturan dengan sudut ikatan masing-masing 120°. Ikatan antaratom karbon
adalah ikatan rangkap dua dan tunggal bergantian (terkonjugasi).Analisis
sinar-X terhadap struktur benzena menunjukkan bahwa panjang ikatan antaratom
karbon dalam benzena sama, yaitu 0,139 nm. Adapun panjang ikatan rangkap dua
C=C adalah 0,134 nm dan panjang ikatan tunggal C–C adalah 0,154 nm. Jadi,
ikatan karbon-karbon pada molekul benzena berada di antara ikatan rangkap dua
dan ikatan tunggal.
Izin memberikan saran seharusnya contoh dalam senyawa hibridisasinya di berikan gambar bentuk hibridisasi sp, sp2, dan sp3 nya supaya kelihatan perbedaan dari ketiganya. terimkasih
BalasHapusTerimakasih atas sarannya Elsa.
HapusSaya ingin bertanya kepada saudara, Ikatan rangkap pada alkena dapat mengalami reaksi adisi, tolong jelaskan mengapa ikatan rangkap pada benzena tidak dapat diadisi?
BalasHapusSaya akan menjawab pertanyaan dari saudari Lilis yaitu mengapa ikatan rangkap pada benzena tidak dapat diadisi karena resonansi terjadi karena adanya delokalisasi elektron dari ikatan rangkap ke ikatan tunggal Hal yang harus diperhatikan adalah, bahwa lambang resonasi bukan struktur nyata dari suatu senyawa, tetapi merupakan struktur khayalan. Sedangkan struktur nyatanya merupakan gabungan dari semua struktur resonansinya. Hal ini pun berlaku dalam struktur resonansi benzena.Teori resonansi dapat menerangkan mengapa benzena sukar diadisi sebab ikatan rangkap dua karbon-karbon dalam benzena terdelokalisasi dan membentuk semacam cincin yang kokoh terhadap serangan kimia, sehingga tidak mudah diganggu. Oleh karena itulah reaksi yang umum pada benzena adalah reaksi substitusi terhadap atom H tanpa mengganggu cincin karbonnya.
Hapusselamat pagi ester mordekhai sitompul. saya ingin bertanya bagaimana cara menentukan senyawa itu aromatik dengan menentukan posisi absorpsi dalam mspektrum nomor oleh proton yang terikat pada atom-atom cincin? tolong jelaskan secara rinci, terima kasih
BalasHapusBaiklah saya akan menjawab pertanyaan dari saudari Fitri yaitu bagaimana cara paling mudah untuk menentukan apakah suatu senyawa itu aromatik ialah dengan menentukan posisi absorpsi dalam mspektrum nomor oleh proton yang terikat pada atom-atom cincin. Proton yang terikat ke arah luar cincin aromatik sangat kuat terperisai dan menyerap jauh ke bawah-medan dibandingkan kebanyakan proton, biasanya lebih dari 7 ppm.
HapusTerimakasih.